Wushu Kepri Raih 39 Medali di Malang, Harlianto Bidik Prestasi Lebih Baik Menuju PON 2028

Konikepri.id- Tim Wushu Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menorehkan hasil positif dalam keikutsertaannya pada Eng An Kiong Wushu Championship 2026 di Malang, Jawa Timur. Kontingen Wushu Kepri berhasil mengumpulkan total 39 medali dari 39 kelas yang diikuti dalam kejuaraan yang berlangsung pada 25–27 September 2026 tersebut.

Perolehan medali itu terdiri dari 15 medali emas, 17 medali perak, dan tujuh medali perunggu. Hasil tersebut menjadi modal penting bagi Pengurus Provinsi (Pengprov) Wushu Indonesia Kepri untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan atlet, sekaligus memperkuat persiapan menghadapi agenda olahraga nasional mendatang.

Kedatangan tim Wushu Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Rabu (30/9/2026), disambut jajaran KONI Kepri bersama Pengprov Wushu Kepri. Penyambutan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas perjuangan para atlet yang telah berlaga pada Eng An Kiong Wushu Championship 2026 di Malang, Jawa Timur, dan berhasil membawa pulang total 39 medali, terdiri dari 15 emas, 17 perak, dan tujuh perunggu.

BACA JUGA : Tim Wushu Kepri Berangkat ke Malang, Turunkan 20 Orang di Open National Wushu Taolu 2026

Penyambutan dilakukan Sekretaris Umum KONI Kepri, Dr Suyono, bersama Wakil Ketua Umum KONI Kepri, Dr Rini Elfina, didampingi sejumlah pengurus KONI Kepri lainnya serta jajaran Pengprov Wushu Kepri. Kehadiran pengurus tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap perjuangan atlet sekaligus motivasi agar capaian di Malang menjadi bekal untuk meningkatkan prestasi.

Ketua Umum KONI Provinsi Kepulauan Riau, Usep RS menyampaikan apresiasi atas capaian kontingen Wushu Kepri di Malang. Ia menilai, hasil 39 medali tersebut patut menjadi penyemangat bagi atlet dan pengurus untuk terus mengembangkan prestasi olahraga daerah.

Usep RS mengatakan, keikutsertaan cabang olahraga dalam berbagai kejuaraan merupakan bagian penting dari proses pembinaan. Melalui pertandingan, atlet memperoleh pengalaman, pelatih dapat mengevaluasi program latihan, dan pengurus memiliki gambaran mengenai perkembangan kemampuan atlet yang dibina.

“KONI Kepri mengapresiasi capaian Wushu Kepri yang berhasil membawa pulang 39 medali. Ini menjadi hasil yang patut disyukuri sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan pembinaan. Kami berharap prestasi ini tidak berhenti di sini, tetapi menjadi pijakan untuk menghadapi tantangan yang lebih besar,” ujar Usep RS.

Ia juga berharap Pengprov Wushu Kepri dapat menyusun persiapan jangka panjang dengan memperhatikan kualitas atlet, kesinambungan latihan, dan kebutuhan mengikuti kejuaraan. Menurutnya, target menuju PON harus dibangun melalui proses yang terukur, bukan hanya berdasarkan hasil sesaat.

Usep RS menegaskan, harapan terhadap Wushu Kepri bukan sekadar kembali meloloskan atlet ke PON 2028 di NTB–NTT, melainkan juga mendorong peningkatan prestasi dibandingkan keikutsertaan sebelumnya. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan sinergi antara pengurus cabang olahraga, pelatih, atlet, dan KONI Kepri.

Dengan raihan 39 medali di Malang, Wushu Kepri kini memiliki tambahan pengalaman dan bahan evaluasi untuk melanjutkan pembinaan. Harlianto, Rudi, dan Usep RS  berharap hasil tersebut menjadi pemacu semangat seluruh jajaran Wushu Kepri dalam mempersiapkan atlet agar mampu bersaing pada kejuaraan berikutnya dan membuka peluang kembali tampil di PON 2028 dengan prestasi yang lebih baik.

Harlianto: Raihan 39 Medali Jadi Motivasi Tingkatkan Pembinaan Wushu Kepri

Ketua Umum Pengprov Wushu Kepri, Harlianto, mengapresiasi perjuangan para atlet yang telah bertanding membawa nama Provinsi Kepulauan Riau. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil dari proses latihan, kedisiplinan, serta kerja sama antara atlet, pelatih, dan jajaran pengurus.

Harlianto mengatakan, keikutsertaan dalam kejuaraan tingkat nasional seperti Eng An Kiong Wushu Championship bukan semata-mata untuk mengejar medali. Ajang tersebut juga menjadi sarana mengukur kemampuan atlet, mengevaluasi hasil latihan, serta mengetahui aspek-aspek yang masih perlu diperbaiki.

“Alhamdulillah, anak-anak mampu membawa pulang 39 medali. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi Wushu Kepri. Namun, kami tidak boleh cepat berpuas diri. Hasil ini harus menjadi motivasi untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan,” ujar Harlianto.

Ia menegaskan, pembinaan atlet Wushu Kepri harus dilakukan secara berkelanjutan. Prestasi dalam sebuah kejuaraan menjadi salah satu indikator perkembangan atlet, tetapi konsistensi latihan, peningkatan teknik, mental bertanding, dan pengalaman menghadapi lawan dengan kualitas berbeda juga harus menjadi perhatian.

Menurut Harlianto, Pengprov Wushu Kepri akan terus mendorong para atlet untuk mengikuti berbagai kejuaraan sebagai bagian dari proses pembinaan. Dengan semakin banyaknya pengalaman bertanding, para atlet diharapkan semakin siap menghadapi persaingan pada tingkat regional maupun nasional.

“Target kami bukan hanya mendapatkan medali dalam satu kejuaraan. Kami ingin pembinaan Wushu Kepri terus berkembang dan melahirkan atlet-atlet yang mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan internasional,” katanya.

Wakil Ketua Umum Pengprov Wushu Kepri, Rudi, turut memberikan apresiasi terhadap perjuangan seluruh atlet yang tampil di Malang. Ia menilai, raihan 15 emas, 17 perak, dan tujuh perunggu menunjukkan adanya potensi yang perlu terus dikembangkan melalui program pembinaan yang terarah.

Rudi mengatakan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari persiapan atlet bersama pelatih Wandy Tandun dan tim. Ia berharap hasil kejuaraan dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas teknik, ketahanan fisik, kedisiplinan, serta kesiapan mental para atlet dalam menghadapi pertandingan berikutnya.

“Medali yang diraih patut kita syukuri, tetapi pekerjaan pembinaan masih panjang. Atlet harus tetap disiplin berlatih, pelatih terus mengevaluasi kekurangan, dan pengurus berupaya memberikan dukungan agar kemampuan mereka semakin meningkat,” ujar Rudi.

Dalam kontingen yang mengikuti kejuaraan tersebut, Wushu Kepri juga membawa sejumlah atlet yang berasal dari Surabaya dan telah melakukan mutasi ke Kepri. Mereka adalah Adara Widad Bashirah, Janice Joyce Prayogo, Eleanor, Kimiko, Victoria Gabriela, dan Rafka Kaka Ibrahim.

Kehadiran enam atlet mutasi tersebut diharapkan dapat memperkuat persaingan internal sekaligus menambah pilihan atlet potensial dalam pembentukan tim Wushu Kepri untuk berbagai kejuaraan mendatang. Meski demikian, peningkatan prestasi tetap membutuhkan pembinaan bersama dan evaluasi berdasarkan kemampuan masing-masing atlet.

Kejuaraan di Malang itu juga menjadi momentum bagi Wushu Kepri untuk memperkenalkan dan mengembangkan nomor Wushu Taolu. Tim wushu Kepri dinaungi oleh dua pelatih Matthew Jordan dan Orcyda Tsabita.

Pengalaman tersebut diharapkan menjadi awal yang baik bagi keduanya untuk terus meningkatkan kemampuan. Penampilan perdana dalam sebuah kejuaraan memberikan kesempatan bagi atlet untuk mengenali atmosfer pertandingan, mengelola rasa gugup, serta memahami tuntutan penilaian dalam nomor yang diikuti.

Di sisi lain, Pengprov Wushu Kepri juga memiliki pekerjaan besar untuk mempersiapkan atlet menghadapi persaingan pada level yang lebih tinggi. Pengalaman dari kejuaraan nasional perlu ditindaklanjuti dengan program latihan terukur, pemantauan perkembangan atlet, dan kesempatan bertanding yang sesuai dengan kebutuhan pembinaan.

Harlianto menegaskan, salah satu perhatian utama Wushu Kepri adalah mempersiapkan atlet agar mampu bersaing dalam seleksi menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 yang akan diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTB–NTT).

Ia mengingatkan bahwa Wushu Kepri pernah masuk dalam tim yang tampil pada PON 2024. Namun, pada kesempatan tersebut, atlet Wushu Kepri belum berhasil mengukir prestasi sesuai harapan. Pengalaman itu menjadi bahan evaluasi agar persiapan menghadapi PON berikutnya dapat dilakukan lebih matang.

“Kami tentu berharap Wushu Kepri kembali bisa meloloskan atlet ke PON 2028. Kalau nanti mendapatkan kesempatan tampil, kami ingin atlet tidak hanya sekadar berpartisipasi, tetapi juga mampu memperbaiki prestasi. Karena itu, persiapannya harus dilakukan sejak sekarang,” kata Harlianto.

Menurutnya, perjalanan menuju PON tidak dapat hanya mengandalkan hasil satu atau dua kejuaraan. Diperlukan kesinambungan pembinaan, pemetaan potensi atlet, peningkatan kualitas pelatih, serta dukungan organisasi agar atlet dapat berkembang secara optimal.

(tjo)

Event
Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini